Review Batman: Dark Knight rises

Batman: The Dark knight rises

 

https://www.primevideo.com/-/id/detail/The-Dark-Knight-

Rises/0GYYO7X4LITDG4XVDM1VZQGHO5

 

Pendahuluan

 

 The Dark Knight Rises, film ketiga dalam trilogi Batman yang disutradarai oleh Christopher Nolan, merupakan sebuah karya yang kaya akan simbolisme dan makna. Film ini tidak hanya mengandalkan penceritaan yang kuat, namun juga penggunaan elemen sinematik secara cermat untuk menyampaikan tema dan makna yang lebih dalam. Dalam analisis semiotika ini akan dibahas tanda-tanda yang muncul pada kategori arah, bunyi, kamera dan editing. Masing-masing kategori ini berkontribusi pada bagaimana penonton memahami karakter, tema, dan konflik film.

 

1.  Mise en Scene

 Mise en Scene mencakup semua elemen visual yang terlihat di layar, termasuk latar, kostum, pencahayaan, dan pengarahan. Dalam The Dark Knight Rises, elemen-elemen ini digunakan secara efektif untuk menciptakan suasana dan menyampaikan makna.

 

 Setting dan Lokasi: Kota Gotham digambarkan dengan tone yang kelam dan kelam, mencerminkan ketidakadilan dan kekacauan yang ada. Tempat-tempat seperti penjara, jalan-jalan yang hancur, dan bangunan-bangunan yang runtuh merupakan simbol keruntuhan moral dan fisik kota. Latar yang gelap dan menyedihkan ini menciptakan suasana yang mendukung tema film tentang perang dan harapan. Misalnya, penjara yang gelap dan lembap tempat Bruce Wayne ditahan mencerminkan keputusasaan dan keterasingan, sedangkan saat ia kembali ke Gotham, suasana kota yang hancur menunjukkan besarnya tantangan yang ada di depan.

 

 Kostum: Kostum Batman, terdiri dari warna hitam dan pola seram, berfungsi sebagai simbol kekuasaan dan keadilan. Di sisi lain, pakaian Bane yang menonjolkan kekuatan fisiknya justru menimbulkan ancaman dan kekacauan. Pakaian Selina Kyle (Catwoman) yang paling glamor dan ambigu menyampaikan dualitas karakternya, yang menjadi simbol moralitas kompleks dari film tersebut. Kostum-kostum tersebut tidak hanya berfungsi sebagai identitas visual, namun juga mencerminkan perjalanan para tokoh dan konflik internal yang dihadapi.

 

 Pencahayaan: Pencahayaan dalam film ini sering kali kontras, dan banyak adegan yang menggunakan bayangan untuk menciptakan ketegangan. Pencahayaan redup di sebagian besar film menciptakan suasana misterius dan menegangkan, mencerminkan perjuangan Batman melawan kegelapan yang mengancam Gotham. Misalnya, saat Batman berhadapan dengan Bane, pencahayaan dramatis menyoroti ketegangan di antara keduanya, sedangkan saat Bruce Wayne mencoba bangkit kembali, pencahayaan yang lebih lembut mencerminkan harapan dan kelahiran kembali.

 

2.  sound

 Suara dalam film ini berfungsi sebagai alat penting untuk menciptakan suasana dan menekankan emosi.

 

 Musik Latar: Skor musik yang ditulis oleh Hans Zimmer membantu menciptakan ketegangan dan kegembiraan. Musik yang dramatis dan seru mengiringi momen-momen penting, seperti saat Batman kembali ke Gotham atau saat Bane menunjukkan kekuatannya. Musik ini merupakan tanda pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, serta antara harapan dan keputusasaan. Misalnya, ketika momen dramatis berkembang, seperti saat Gotham terancam, alunan musik yang menggelegar menambah intensitas dan membuat penonton merasakan urgensi situasi tersebut.

 

 Efek Suara: Efek suara seperti ledakan, langkah kaki, dan suara napas berat Bane menambah intensitas pemandangan. Suara khas Bane dengan nadanya yang dalam dan mengancam telah menjadi simbol kekuasaan dan ketidakadilan. Efek suara ini membantu menciptakan suasana yang imersif dan mendukung narasi film. Suara-suara ini tidak hanya berfungsi untuk menambah realisme, tetapi juga untuk menekankan emosi yang dirasakan oleh karakter dan penonton.

 

 Dialog: Dialog-dialog dalam film ini juga memiliki makna yang dalam. Kata-kata yang diucapkan para tokoh khususnya Bane dan Batman seringkali mengandung filosofi tentang keadilan, pengorbanan dan harapan. Dialog ini berfungsi sebagai tanda yang mengungkap konflik internal dan eksternal yang dihadapi tokoh. Misalnya, ketika Bane berbicara tentang kekuatan dan kebangkitan, kata-katanya mencerminkan ideologi yang lebih luas tentang perjuangan melawan penindasan, sementara dialog Batman sering kali mencerminkan keraguan dan beban moral yang ditanggungnya.

 

3.  Camera work

 Penggunaan kamera dalam "The Dark Knight Rises" sangat penting untuk menyampaikan sudut pandang dan emosi karakter.

 

 Bidikan: Teknik kamera, seperti close-up dan bidikan lebar, digunakan untuk menekankan emosi karakter. Gambar close-up wajah Bruce Wayne saat dia bergumul dengan masa lalunya menunjukkan kerentanan dan rasa tidak amannya. Sebaliknya, gambar lebar Batman yang terbang di atas Gotham menunjukkan kekuatan dan keberaniannya. Penggunaan close-up juga memberikan kesempatan kepada penonton untuk merasakan kedalaman emosi yang dialami para karakter, sedangkan wide shot memberikan konteks yang lebih luas terhadap situasi sebenarnya.

 

 Pergerakan Kamera: Pergerakan kamera yang dinamis, terutama dalam adegan aksi, menciptakan kesan mendesak dan tegang. Misalnya saja saat adegan pertarungan antara Batman dan Bane, pergerakan kamera yang cepat dan gemetar menciptakan ketegangan yang dalam sehingga membuat penonton merasakan intensitas pertarungan. Pergerakan kamera yang halus di momen-momen emosional, seperti saat Bruce Wayne merenungkan masa lalunya, memberikan ruang bagi penonton untuk merenungkan perjalanan karakternya.

 

 Sudut Pandang: Sudut pandang kamera juga berfungsi untuk menciptakan perspektif. Sudut rendah yang digunakan untuk menampilkan Bane memberikan kesan dominasi dan kekuasaan, sedangkan sudut tinggi yang digunakan untuk menampilkan Batman menimbulkan kesan heroik. Hal ini membantu penonton memahami posisi kekuatan dan kelemahan konflik yang ada. Perspektif ini pun menciptakan ketegangan visual, di mana penonton bisa merasakan ancaman yang dihadirkan Bane dan harapan yang dibawa Batman.

 

 

 

 

4.  Editing

 Editing pada film ini berfungsi untuk mengatur tempo dan alur cerita, serta menonjolkan momen-momen penting.

 

 Stimulus: Pengeditan adegan aksi yang cepat menciptakan ketegangan dan urgensi. Di sisi lain, pengeditan yang lebih lambat pada momen-momen emosional memberikan kesempatan kepada penonton untuk memikirkan perasaan para karakter. Kombinasi kedua teknik ini menciptakan pengalaman visual yang seimbang dan imersif. Misalnya, saat adegan pertarungan, pengeditan cepat membuat penonton merasa terlibat dalam aksinya, sedangkan saat karakter mengalami momen refleksi, pengeditan lambat membuat penonton merasakan emosi yang lebih dalam.

 

 Editing: Penggunaan editing dalam film ini, terutama saat menampilkan perjalanan Bruce Wayne dari musim gugur hingga bangkit, berfungsi untuk menekankan transformasi karakternya. Montase ini menjadi pertanda perjalanan panjang dan sulit yang harus dilalui Batman untuk kembali ke jalurnya. Dalam montase ini, penonton dapat melihat perubahan fisik dan emosional yang dialami Bruce, yang mencerminkan tema kebangkitan dan harapan.

 

 Transisi: Transisi halus antar adegan juga berfungsi untuk menghubungkan tema dan simbol yang ada. Misalnya, transisi antara adegan Batman dan Bane seringkali menunjukkan kontras antara kebaikan dan kejahatan, antara harapan dan keputusasaan.

Hal ini membantu penonton memahami hubungan antar karakter dan konflik yang ada. Transisi ini juga menciptakan alur cerita yang lancar, membuat penonton tetap terlibat dan fokus pada perkembangan cerita.

 

 Kesimpulan

             Melalui analisis semiotik berdasarkan kategori Mise en Scene, suara, kamera, dan editing, kita dapat melihat bagaimana The Dark Knight Rises menggunakan berbagai elemen sinematik untuk menyampaikan tema dan makna yang lebih dalam.


Mengupload: 335565 dari 335565 byte diupload.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review film Blade Runner 2049

TREATMENT AND REVIEW GUNDALA

TREATMENT AND REVIEW NEW AMERICAN CINEMA (1965-1997)